Tengah malam

Selamat malam, malam.
Gelap. Temaram. Dingin.
Terasa sesak.
Kufikir ini mati lampu.
Segera siapapun, seseorang, tolong nyalakan AC nya!!!
Ah iya, aku lupa rumahku tak memakai AC.

Selamat malam, malam.
Masih saja kau dingin.
Padahal tak memakai AC, juga kipas angin.
Dan masih saja kau datang membawa ngantuk.
Juga rindu.....

Ah, bosan aku.
Hanya itu saja yang kau punya.
Kau tak punya dia?
Ya siapa lagi kalau bukan untukku!
Masih saja kau bertanya!

Hei, malam.
Sebaiknya, jangan kau perlihatkan aku dengan bintang.
Aku cemburu!
Terlihat bahagia sekali ia disana,
di langit yang gelap itu bersama bulan.

Di sini kau hanya menyiksaku.
Di selimuti dingin, membuatku menggigil.
Di selimuti cemas, yang teramat.
Di ludahi jutaan rindu, yang entah bagaimana caranya ia datang, tahu-tahu sudah menyelimuti malam.
Malam, malamku, tengah malam ini.

Iya, ini menyiksa.
Sedikit.
Tak banyak.
Kufikir jangan banyak-banyak.
Agar tak habis stok siksaan ini untuk malam- malam berikutnya.
Kufikir kau akan senang bila aku teramat tersiksa dengan ini, hei malam.

Sudahlah, tak apa.
Jangan pedulikan aku.
Walau aku bosan sebab kau dingin.
Walau aku cemburu pada bintang dan bulan.
Walau kau datang dengan tidak membawa dia.
Tak apa.
Aku tak apa.
Aku tetap mencintaimu, malam.
Yang dingin, yang membuatku mengantuk, yang membuatku teramat rindu untuk sambut esok malam lagi. Lagi. Dan lagi.
Selamat malam , tengah malam.



-RS-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semoga tidak kamu lagi

Hari penuh tawa

Gerimis kebahagian. (Cerpen)