Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2014

Kamu

Kamu tidak; Indah seperti senja Manis seperti gula Cantik seperti bunga. Kamu bukan senja. Lama datangnya Kemudian cepat menghilangnya. Kamu tidak seperti gula. Manis bila dirasa Kemudian menimbulkan sakit bila terus dirasa. Kamu bukan juga seperti bunga. Cantik dipandang Kemudian semakin banyak yang memandangmu, Membuatku cemburu. Dan kamu tidak seperti pelangi. Yang hanya muncul setelah hujan. Bukan juga seperti hujan. Datang setelah gerimis. Dan bukan juga seperti DIA. Yang pernah menjadi bagian dari masa lalu. Kamu adalah kamu. Bukan senja yang cepat berlalu. Bukan gula yang menimbulkan penyakit. Bukan juga dia, yang hadirnya di masa lalu. Kamu adalah kamu. Masa kini, masa depanku. Ada di pagi, siang, dan malamku. Ada setelah hujan bahkan sebelum gerimis menjemput. -RS-

Tanpa batas

Aku gak tahu benar tentang cinta Yang aku tahu aku tak ingin pisah Pisah denganmu walau hanya sebentar. Aku gak tahu benar tentang cinta Yang aku tahu aku selalu merindumu Entah pagi, siang, sore maupun malam Dimana pun aku selalu merindu. Tolong jangan meragu padaku Aku selalu mencintaimu. Jangan pernah engkau berhenti Sebab aku tak pernah berhenti memikirkanmu. Percayalah padaku mengenai rasa sayang yang mulai membanjiri setiap sudut relung hati Percayalah padaku yang tetap masih merindukanmu di setiap pagi dan malamku Aku menyayangimu tanpa batas Aku merindukanmu ada atau tak adanya engkau disampingku. -RS-

Gerimis kebahagian. (Cerpen)

Suatu hari dimana semua keindahan terasa sangat indah. Kulihat dia duduk di depanku dengan memangku laptopnya. Sesekali dia menengokku yang berada di belakangnya, kemudian Ia tersenyum. Dia melanjutkan lagi mengerjakan tugasnya di laptop yang di pangku. Sebenarnya aku cemburu pada laptop itu, aku tak ingin kekasihku itu memangku sesuatu yang lain selain diriku. Aku tahu itu hanya sebuah benda mati, yang tak bisa merasakan hangatnya saat dipangku kekasihku. Kemudian aku tersenyum karena pemikiranku yang seperti anak kecil ini. Aku masih dibelakangnya dengan memegang buku kecil yang saat ini sedang ku tulis segalanya tentang dia. Tentang dia yang selalu menatapku dengan mata yang tajam namun penuh kehangatan. Tentang dia yang menyatakan cintanya saat kita berwisata ke kebun binatang. Tentang dia yang selalu memanggilku kebo, sebab aku yang selalu susah bangun jika tertidur. Hehehe. Aku tersenyum saat membaca lembar perlembar cerita tentang aku dan dia terlukis dengan indahnya di catatan...

Rindu.

Rindu Pelukmu Candamu Aku rindu. Aku bosan Setiap kali melihat ke langit Aku selalu melukiskan kerinduanku Pada udara, pada alam, pada semesta. Aku rindu Padamu yang begitu menyebalkan Kepada kamu yang terkadang menyenangkan Dan masih padamu yang bernyanyi dengan suara sumbang. Aku rindu Menatap bintang bersamamu Menatap bulan berdampingan denganmu Menatap wajah kita masing-masing yang terbalut tali asmara. Namun sampai kapan rindu ini berbalas? Seperti halnya cinta. Akupun ingin rindu ini berbalas. Aku ingin kamu merasakan rindu yang sama. Aku ingin kita sama-sama merindu.. Pada akhirnya aku ingin rindu hanya sebatas ruang kecil yang hanya satu pintu dalam memisahkan kita. Tapi , kapan rindu menjadi seperti itu? Apa aku harus menunggu waktu yang akan mendatangkan rindu kepada kamu dan menunggu angin yang menyampaikan pesan rindumu padaku? Tapi...... kapan?! Aku rindu. -RS-