Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2015

Cinta yang Agung

Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya. Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia. Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata "Aku turut berbahagia untukmu" Apabila cinta tidak berhasil. Bebaskan dirimu… Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi. Ingatlah… bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya. Tapi.... Ketika cinta itu mati, kamu tidak perlu mati bersamanya. Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang. MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh. (Kahlil Gibran)

Nyanyian hujan

Malam ini hujan turun kembali. Membasahi bumi yang sedari tadi siang banyak dari mereka yang mengeluh panas. Mereka bilang hujan membawa kenangan. Kubilang hujan membawa nyanyian. Nyanyian hujan. Rintik air yang menetes di atas genting. Menari nari di atas tanah. Mengalir menuju sungai dekat rumah warga. Hujan bersorak. Beramai-ramai datang. Kepada kita yang terkadang tak siap menjamu kedatangannya. Sebagian membawa berkah, sebagian membawa bencana menurut mereka. Jangan salahkan hujan. Salahkan dirimu yang berpergian tak membawa payung maupun jas hujan. Jangan salahkan hujan yang terlalu deras. Salahkan dirimu yang membuang sampah ke sungai tanpa pernah memikirkan akibatnya. Jangan salahkan hujan yang berlarut-larut. Salahkan dirimu yang berlarut-larut dalam kesedihan yang amat lama. Hingga hujan di pipimu terlalu lama bernyanyi. -RS-

Jatuh kepada hujan

Kepadanya aku jatuh cinta. Seperti datang setelah gerimis dan ia adalah hujan yang begitu deras. Aku suka. Aku tak mau menyebutnya sebagai pelangi. Kau tahu mengapa? Bukan! Bukan karena ia tak indah. Melainkan karena ia terlalu indah. Maka aku menyebutnya ia sebagai hujan yang deras. Bisa kunikmati dengan lama. Dan aku dapat menari di bawah air hujan itu. Maka kusebut kepada ia lah aku jatuh. Jatuh cinta. Entah sudah keberapa kalinya. Jelasnya ia selalu membuatku jatuh cinta, dengan sangat deras. Iya, seperti itu aku mencintainya. -RS-

Tengah malam

Selamat malam, malam. Gelap. Temaram. Dingin. Terasa sesak. Kufikir ini mati lampu. Segera siapapun, seseorang, tolong nyalakan AC nya!!! Ah iya, aku lupa rumahku tak memakai AC. Selamat malam, malam. Masih saja kau dingin. Padahal tak memakai AC, juga kipas angin. Dan masih saja kau datang membawa ngantuk. Juga rindu..... Ah, bosan aku. Hanya itu saja yang kau punya. Kau tak punya dia? Ya siapa lagi kalau bukan untukku! Masih saja kau bertanya! Hei, malam. Sebaiknya, jangan kau perlihatkan aku dengan bintang. Aku cemburu! Terlihat bahagia sekali ia disana, di langit yang gelap itu bersama bulan. Di sini kau hanya menyiksaku. Di selimuti dingin, membuatku menggigil. Di selimuti cemas, yang teramat. Di ludahi jutaan rindu, yang entah bagaimana caranya ia datang, tahu-tahu sudah menyelimuti malam. Malam, malamku, tengah malam ini. Iya, ini menyiksa. Sedikit. Tak banyak. Kufikir jangan banyak-banyak. Agar tak habis stok siksaan ini untuk malam- malam berikutn...

Jari-jari malaikat

Tangannya mungil. Jarinya tak sebesar jariku. Genggamannya penuh kuraih. Lembut dan halus ku pegang ia dalam genggaman. Kepadaku, untukku, dan malaikat kecilku. Kepadaku untuk dihadiahi di keluarga kecilku. Untukku dijaga, di kasihi, di sayangi. Malaikat kecilku yang selalu menangis. Tangisannya membuatku bahagia. Sebahagia ini, hingga air mata tak terasa turun ke pipi. Terimakasih Tuhan. Terimakasih telah Kau titipkan malaikat kecil ini padaku. Sebab jarinya mungil, aku tahu jari-jari mungil ini nantinya akan bertumbuh besar mengikuti badannya. Kemudian akan ada karya yang dapat ia ciptakan lewat jari-jari nya kelak. Terimakasih :') -RS-

Aku?

Aku. Mereka bilang aku menyebalkan. Mereka bilang wajahku menjengkelkan. Dan mereka bilang sikap ku membuat mereka kesal. Aku. Kufikir kalian terlalu negatif menilai ku. Kufikir kalian terlalu sebelah mata memandangku. Kufikir kalian harus kuperkenalkan dengan dia yang berhasil membuatku kesal hampir di tiap hari. Setelah mengenal ia, iya dia yang ingin rasanya ku perkenalkan pada kalian. Kalian mungkin tak lagi bicara bahwa aku se-menyebalkan itu. Kalian akan beralih untuk membicarakan dia yang lebih menyebalkan. Kalian akan terus membicarakan dia, mungkin akan menyebut ia sebagai seseorang yang jahat. Nantilah kuberitahu pada kalian seperti apa dia. Aku. Iya aku. Sedari tadi yang kubicarakan hanya diriku. Sedikit tentang ia. Sedikit tentang mereka yang mengenalku dengan sangat buruk. Aku. Hanya aku yang tahu. Tidak dia. Tidak kamu. Tidak juga mereka. Hanya aku dan Tuhan. -RS-