Postingan

Recomended

Kepada kamu yang baru saja pergi

Kepada kamu yang baru saja pergi Selamat jalan dan hati-hati. Jangan khawatir, aku tak sendiri. Berteman sepi, hadiah pemberianmu kini. Kepada kamu yang baru saja pergi Di persilahkan kamu untuk berbahagia Bersama dia, yang kau pilih sebagai pengganti. Karena hati, tak bisa ditempati dengan aku dan dia. Aku mengalah, bukan berarti ini kekalahanku. Hanya ego mu lah yang tak mau mengalah Menempatkan aku dan dia pada satu hatimu Aku tak masalah dulu, hanya saja, kini, aku menyerah. Kepada kamu yang baru saja pergi Jangan lupa bahagia dengannya kini Jangan mengasihaniku yang telah merelakan Dan jangan pernah kembali, jika hubunganmu dengannya berantakan! -RS-

Bukan curhat! (2)

Let it flow~ Jalanin aja sebagaimana air yang mengalir. Ha! Petuah lama. Terkadang ada benarnya, kadang tidak benar. Sebab terkadang akan membuat seseorang menunggu lama. Untuk kepastian dan kejelasan hubungan dua orang yang mungkin salah satunya membuat komitmen seperti itu. Ini masih tentang kegengsian seseorang. Seorang manusia yang bertahan untuk tidak mengakui kalau dia "masih ingin". Tapi ketika ditanya dia hanya membohongi perasaannya dengan menjawab "tidak tahu". Karena apa? Gengsinya terlalu besar. Manusia ini tidak paham, suatu saat kegengsiannya bahkan egonya lah yang akan membuatnya menyesal. Ketika semua penyesalannya telah datang, manusia ini tidak akan pernah bisa memperbaikinya. Dia tidak bisa memperbaikinya pada siapa yang telah membuatnya menyesal. Tetapi, ia dapat memperbaikinya untuk tidak mengulang kesalahan yang sama pada orang lain yang mungkin tidak akan menjadikannya menyesal. Ah! Tapi, seorang manusia ini untuk sekarang ini dia masih be...

Bukan curhat!

Ketika menulis ini, saya sedang berada di toilet, memikirkannya. Bukan hal-hal yang kotor untuk dipikirkan, kemudian menangis. Entah untuk apa saya menangis. Kepergian? Atau kepulangan kembali tapi tidak berujung menetap? Saya pikir, saya tidak akan lagi bisa menulis. Apapun itu cerita Saya, Anda, Dia, Kamu, Kamu, Kamu. Entah siapa yang saya maksud itu. Tapi sekarang saya menulis. Mungkin benar, tiap manusia mempunyai keresahan yang dapat disalurkan lewat tulisan. Seperti ini. Kau tahu? Saya disini, hanya berusaha untuk menang. Tidak lagi untuk kalah dan menyerah. Kau mungkin bertanya pada apa saya ingin menang? Sebuah ego dan gengsi. Iya, diri sendiri. Saya mempertahankan gengsi untuk tidak menghubunginya (lagi). Bertahan pada ego untuk tidak merindukannya (lagi). Untuk tidak memikirkannya (lagi) dan hanya berfokus untuk memikirkan diri sendiri. Tebak! Apa menurutmu saya sudah menjadi pemenang dengan melakukan itu? Kau salah, jika menjawab sudah! Kenyatannya saya hanya berpura-p...

Salah siapa?

Orang bilang salah satu hal yang paling percuma dilakukan manusia adalah "mencoba berlari dari kenangannya sendiri" . Salah dua hal nya menurut saya adalah. "Melepas kekasih disaat sedang sayang-sayangnya" . Melepas hanya karena kesalahpahaman. Percuma. Karena selebihnya akan ada hari dimana penyesalan selalu membuntuti dibelakang kita. Salah tiga hal nya menurut saya? Hmm... Entahlah. Karena salah satu dan salah dua nilainya adalah 9 dan 8. Kalau salah 3 bernilai 7. Salah negor orang itu malu sendiri jadinya. Salah masuk kelas itu jadi tengsin. Salah satu manusia yang perasaannya tidak dihargai dari hubungannya.... itu...... saya? Atau kamu? Atau dia? Atau kita? Kalian? Mereka? Salah satu manusia yang tetap bertahan meskipun....... iya. Anggap saja... Saya. Salah mengambil keputusan dan memilih langkah percuma di salah dua itu adalah tindakan bodoh..... menurut saya. Jadi jangan. Jangan jadi yang salah. Iya absurd emang. Biarin. Namanya juga manusia.    ...

Februari

Kamis, 2 februari 2017 Dear readers , Halo, apa kabar? Apa kalian rindu saya? Tulisanku lebih tepatnya? Oh pasti tidak. Tidak apa aku tahu, karena aku pun juga tidak begitu merindukan tulisanku sendiri. Setahun kemarin aku tidak menulis apa-apa disini. Bukan karena aku lupa untuk update blog ini. Melainkan karena aku lupa bagaimana caranya menulis "pakai" hati. Aku lupa bagaimana caranya menulis tanpa harus memikirkan tulisanku bagus atau tidak. Tanpa memikirkan apa ini terlihat alay, norak atau tidak. Biasanya, aku tidak pernah memikirkan itu ketika menulis. Namun, kemarin itu aku memikirkan hal ini. Hingga berujung beberapa postingan di blog ini akhirnya aku jadikan draf. Mohon maaf jika ada tulisan yang kalian suka dan kemudian sudah tidak ke publish lagi. Biasanya, aku menulis sesukaku. Tanpa mempedulikan bagaimana respon orang lain yang mungkin bilang tulisanku galau sekali atau terlalu ABG. Aku lupa bagaimana caranya aku mengabaikan tentang itu, hingga aku jadi s...

Di penghujung tahun

Halo. Selamat hari sabtu terakhir di tahun 2016. Entah kenapa saya ingin menulis di penghujung tahun 2016 ini. Tentang apa? Saya pun tidak tahu. Masih hal yang sama atau bagaimana (?) Eh. Tapi kamu ingat di dua postingan sebelumnya, saya bilang saya sedang berusaha menang? Kamu tahu? Saya kalah. Saya menghubunginya duluan. Saya fikir saya akan terus berlanjut dan senang dengan itu. Tapi nyatanya tidak. Setelah menghubunginya saya tahu saya hanya penasaran. Setelahnya? Saya biasa saja. Saya rindu? Iya! Saya tahu rindu itu hanya bisa dibayar dengan bertemu, dengan berbicara langsung atau tidak. Jelasnya, katakan! Tapi tidak saya katakan saat itu. Saya hanya menghubunginya. Mungkin benar saya hanya penasaran. Sekarang? Saya tidak apa-apa. Baik-baik saja. Tentang perasaan? Mungkin sudah tidak ada. Mungkin. Saya tidak tahu. Tapi saya baik-baik saja, saya tidak akan merasa kehilangannya. Karena saya tahu selama dia masih ada di bumi saya tidak akan kehilangan dia. Itu yang saya katakan...

Tidak kelar!

Pernah suatu sore aku ke Pantai Melihat ombak menerjang karang Seperti kamu yang pergi Dan aku masih kokoh hingga sekarang. Pernah juga aku ke Gunung Melihat awan yang menggumpal di langit biru Seperti rindu yang tidak kunjung pulang Lupa rumahnya, hingga tak sampai pada yang ia tuju. Pernah juga suatu malam aku berjalan di sudut Kota Sendirian, menikmati malam yang selalu punya cerita Di kota ini aku bertemu dirimu Hingga akhirnya aku sadar, bahwa ke depannya hanya akan ada rindu. Dan aku yakin, ini rindu, juga perasaan ini, tidak akan berujung kelar. -RS-