Bukan curhat!

Ketika menulis ini, saya sedang berada di toilet, memikirkannya. Bukan hal-hal yang kotor untuk dipikirkan, kemudian menangis. Entah untuk apa saya menangis. Kepergian? Atau kepulangan kembali tapi tidak berujung menetap?
Saya pikir, saya tidak akan lagi bisa menulis. Apapun itu cerita Saya, Anda, Dia, Kamu, Kamu, Kamu. Entah siapa yang saya maksud itu. Tapi sekarang saya menulis. Mungkin benar, tiap manusia mempunyai keresahan yang dapat disalurkan lewat tulisan. Seperti ini.

Kau tahu? Saya disini, hanya berusaha untuk menang. Tidak lagi untuk kalah dan menyerah. Kau mungkin bertanya pada apa saya ingin menang? Sebuah ego dan gengsi. Iya, diri sendiri.
Saya mempertahankan gengsi untuk tidak menghubunginya (lagi). Bertahan pada ego untuk tidak merindukannya (lagi). Untuk tidak memikirkannya (lagi) dan hanya berfokus untuk memikirkan diri sendiri.
Tebak! Apa menurutmu saya sudah menjadi pemenang dengan melakukan itu?
Kau salah, jika menjawab sudah!
Kenyatannya saya hanya berpura-pura menang. Semuanya menyiksa, disini. 
Tapi, saya bisa mengatasi kepurapuraan ini. Sekali lagi, ini karena gengsi saya yang terlalu besar. Sekalipun dia kembali (lagi), saya pastikan dia tidak akan mendapat jawabannya dengan cepat.
Jangan bertanya kenapa. Kau tahu, semuanya karena saya hanya ingin menang. Saya akan kalah dan menyerah kalau pada waktunya nanti saya kalah.
Silahkan, biar dia kalahkan ego dan gengsi saya. Karena sebelumnya sengaja atau tidak, dia selalu berhasil melakukan itu.

Maaf, ini curhat (?) Bukan! Ini keresahan yang saya alami. Karena keresahan diri sendiri adalah yang paling tepat untuk ditulis. "Menulislah dari sebuah keresahan" begitu kira-kira kata Raditya Dika.
Percayalah, saya menetap. Tidak maju dan tidak mundur. Tidak pergi dan tidak pulang. Saya hanya menetap ditempat dimana dia meninggalkan.

Ps: jangan terlalu girang dan mengira kalau tulisan ini buat kamu kamu yang baca. Saya tidak tahu ini buat siapa! ⏪ (sedang mempertahankan gengsi, egois sekali memang saya).

PS: Tulisan asli ini dipublikasi pada 26/12/16, kemudian saya publikasikan kembali, biar apa? Biar saja. Lucu juga sih membaca ini kembali wkwk

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semoga tidak kamu lagi

Hari penuh tawa

Gerimis kebahagian. (Cerpen)