Gerimis kebahagian. (Cerpen)
Suatu hari dimana semua keindahan terasa sangat indah. Kulihat dia duduk di depanku dengan memangku laptopnya. Sesekali dia menengokku yang berada di belakangnya, kemudian Ia tersenyum. Dia melanjutkan lagi mengerjakan tugasnya di laptop yang di pangku.
Sebenarnya aku cemburu pada laptop itu, aku tak ingin kekasihku itu memangku sesuatu yang lain selain diriku. Aku tahu itu hanya sebuah benda mati, yang tak bisa merasakan hangatnya saat dipangku kekasihku. Kemudian aku tersenyum karena pemikiranku yang seperti anak kecil ini. Aku masih dibelakangnya dengan memegang buku kecil yang saat ini sedang ku tulis segalanya tentang dia. Tentang dia yang selalu menatapku dengan mata yang tajam namun penuh kehangatan. Tentang dia yang menyatakan cintanya saat kita berwisata ke kebun binatang. Tentang dia yang selalu memanggilku kebo, sebab aku yang selalu susah bangun jika tertidur. Hehehe. Aku tersenyum saat membaca lembar perlembar cerita tentang aku dan dia terlukis dengan indahnya di catatan ku ini. Aku bersyukur pada Tuhan, sebab Tuhan terlalu baik mengirimkan dia yang terlalu indah ini untuk mengindahi hari-hariku kini.
"Hei serius amat sih. Nulis apa? Puisi lagi?" Katanya sembari ia menjajari duduknya di sebelahku. Aku menolehnya, serta tersenyum padanya. Aku menaruh kepala ku bersandar di bahunya. Melihat danau yang terbentang dengan di kelilingi tumbuhan di sekelilingnya. Hijau. Alami. Indah. Menyejukan. Sesekali terdengar kicauan burung terlihat berbahagia melihat kita sedekat ini.
"Puisi? Kata orang puisi itu indah tapi sulit untuk dimengerti. Tapi aku gak melihat itu di kamu. Kamu indah dan aku mengerti kamu." Mataku masih menatap ke depan. Tidak kosong. Sebab, mata ini penuh cinta, cinta tentangnya. Dia menengok ku sebentar, kemudian tersenyum sembari mengusap kepala ku dengan tangannya yang lembut. Lembut, karena tangannya tidak pernah ia kotori untuk mengasari ku.
"Lihat pohon disana? Warnanya hijau, dan disini hampir semuanya berwarna hijau. Tapi bersama kamu semuanya berwarna merah muda."
"Kok merah muda sih?" Kataku menatapnya heran.
"Iya soalnya terlalu banyak cinta kamu di mata aku. Jadinya melihat semuanya jadi warna merah muda. Hehe." Jawabnya. Aku tertawa geli mendengar ucapannya. Satu cubitan melayang di perutnya. Dia menjerit kecil. Aku tertawa lagi.
"Jayus ih. Gombalnya kaya beli di pasar ikan nih." Kataku meledeknya. Dia tertawa. Akupun tertawa. Kita tertawa bersama-sama. Entah sampai kapan kita bisa tertawa seperti ini. Aku harap selamanya kita seperti ini.
Aku kembali bersandar di bahunya. Nyaman sekali bersandar di bahunya, sama nyaman nya ketika aku sedang bersama kedua orangtua ku. Tangan kanannya ia pakai untuk merangkul ku dan sesekali mengusap kepala ku lagi.
Tuhan, entah ini sudah doa ku yang ke berapa kalinya aku ucapkan padamu. Aku masih tak bosan meminta ini padamu. Aku masih tak jemu memohon ini padamu. Aku harap Engkau pun tak pernah lelah mendengar doaku. Aku hanya ingin, aku dan dia selamanya seperti ini sampai akhir hayat nanti. Sampai ajal yang hanya bisa memisahkan kita. Kemudian ketika kita berpisah karena maut ataupun ajal menjemput. Aku harap Engkau sudi mempertemukan ku kembali dengannya di surga kelak. Doaku pada alam semesta dalam hatiku.
"Kenapa diam?" Tanyanya, padaku yang masih menatap ke depan dengan angan-angan tentangnya.
"Entahlah, aku hanya sedikit berfikir"
"Tentang apa? Apa yang kamu fikirkan hingga itu membuat semuanya lebih penting daripada kita disini."
"Tentang kita di masa depan." Aku bergerak melepaskan kepalaku dari sandarannya. Dudukku maju sedikit ke depannya. Kepalaku menengadah menatap langit. "Sedikit mendung. Apa langit yang cerah akan selalu mendung dengan tiba-tiba, nyu?" Tanyaku padanya. Nyu, unyu. Terkadang aku memanggilnya seperti itu. Dia bilang kita harus punya nama panggilan kesayangan. Akupun tak begitu menginginkannya. Namun katanya itu sebagai identitas kita sebagai sepasang kekasih. Walaupun aku masih tak mengerti sebesar apa mengaruhnya nama itu untuk kelangsungan percintaan kami pada nantinya. Akupun terkadang risih mendengar ia memanggilku kebo. Apalagi terkadang aku harus memanggilnya unyu, itu pemberian nama teralay setelah ayah-bunda mungkin.
"Iya memang akan seperti itu, bo. Akan ada masanya dimana cerah akan berubah menjadi mendung." Jawabnya setelah kita terdiam beberapa detik. Dia menghela nafasnya sebentar, sebelum melanjutkan ucapannya. "Seperti kita. Cerah adalah cinta kita. Mendung adalah disaat dimana kita sedang bertengkar. Aku marah. Kamu mendung. Kamu sedih. Begitupun sebaliknya."
"Tapi aku yakin, mendung ku akan sangat fatal ketika aku pisah denganmu."
"Akupun demikian...." Dia mendatangiku dengan memeluk tubuhku yang mungil dari belakang. "Makanya aku mau kamu selalu sama aku. Aku mau hidup aku selalu cerah. Tanpamu aku akan dihujani petir yang mematikan" lanjutnya yang setelah itu di susul dengan ia mencium pipi sebelah kiri ku. Aku mencium lengannya yang masih mendekap tubuhku ini.
"Kamu tahu? Sekian banyaknya pohon disini. Aku cuma mau berteduh di satu pohon aja disaat terik nanti mulai menggila." Kataku sembari masih terus menatap ke arah pohon-pohon yang berbaris rapi. Seakan Tuhan sengaja menyiapkan barisan pohon itu untuk mengukir keindahan di Danau ini. "Kamu tahu pohon yang mana yang akan aku pilih?" Tanyaku lagi.
Aku melepas dekapannya, membalikan badanku menghadapnya dan menatap dalam ke matanya, mata yang menyimpan banyak keindahan yang membuatku menarik masuk kedalamnya. Dia menggeleng seraya menjawab pertanyaanku tadi. Aku tersenyum sebelum melanjutkan kembali perkataanku.
"Kamu..." tanganku memegang kedua pipinya. "Kamu adalah pohon di kehidupanku. Dimana saat aku di dekat kamu. Kamu selalu memberikan keteduhan, kesejukan, kenyamanan buat aku. Aku mau kamu jadi pohon kehidupan ku selamanya. Aku mau kita......" dia meletakan satu jarinya di bibir ku. Membuatku menghentikan ucapan manis yang sengaja tidak ku rancang untuknya.
"Ssst.. Sudah terlalu banyak kamu bicara. Lihat. Mendung sudah berubah menjadi gerimis. Namun kita masih saja tetap sama."
Aku terdiam. Apa maksudnya? Fikirku dalam hati. Aku menatapnya heran. "Kenapa diam? Ingin menunggu gerimis mulai membasahi tubuhmu, bo? aku memang meneduhkan untukmu. Namun aku masih kurang mampu membuatmu teduh dari rintikan air mata langit." Katanya sembari mulai membereskan perlengkapan piknik yang tadi kita bawa. "Ayo lekas. Cari tempat untuk berteduh sebelum gerimis menjadi hujan" katanya lagi, ia langsung menarik tanganku sebelum aku menjawab ucapannya. Kita jalan perlahan, lebih tepatnya lari-lari kecil. Mencari tempat yang layak untuk di teduhi. Namun seiring langkahku mengikuti jejaknya aku masih memikirkan ucapan nya tadi. Entah kenapa itu membuatku risih dan berfikir lebih keras. Sesampainya kita di gapura, hujan pun turun deras. Dingin. Semakin dingin karena saat itu kita sedang berada di Bogor. Dia melepaskan jaket yang ia kenakan. Kemudian meletakkannya di tubuhku yang sedikit basah karena gerimis tadi.
Awalnya aku menolak, namun ia memaksa. Yasudah tak ada yang banyak ku perbuat selain menyilahkan jaketnya untuk menggantung di tubuhku. Aku diam. Dia pun diam. Kita sama-sama terdiam. Diam dalam waktu yang cukup lama. Hingga hanya suara hujan yang mengetuk-ngetuk atap gapura yang terdengar ramai. Hujan selalu begitu, datangnya selalu keroyokan, sama seperti cintanya, selalu datang keroyokan ketika hati ini sedang merindu. Batinku sembari menatapnya. Aku tersenyum. Namun senyumku memudar saat mengingat ucapannya. Aku mulai tertunduk lemas. Memikirkan arti ucapannya tadi.
"Kamu kenapa?" Tanyanya tiba-tiba. Mungkin selagi aku menunduk, ia melihatku heran. Entahlah. "Masih dingin? Apa aku di dekatmu dan jaket ini menutupimu tubuhmu, tidak begitu membuatmu hangat?" Lanjutnya lagi. Kali ini dia memelukku. Menggesek gesek kedua tanganku agar tetap hangat. Aku hanya menggeleng dengan wajah yang tertunduk. Dia terdiam. Kita terdiam lagi cukup lama dengan dia masih tetap memelukku.
"Nyu..." panggilku dengan mencoba menatapnya dalam. Ia berdeham dan segera menoleh ke arahku. "Aku mau tanya" lanjutku ragu.
"Tanya apa, bo?"
"Hmm. M-maksud ucapan kamu di danau tadi apa?" Tanyaku tanpa basa-basi. Dia menatapku bingung. Dia seperti memutar mutar ingatannya, mengingat apa yang telah ia katakan padaku. Ya, setidaknya itu yang aku tangkap dari gelagatnya.
"Yang mana, bo? Aku salah ngomong ya? Omongan yang mana sih?" Yang ditanya bukannya menjawab malah berbalik tanya. Kini gantian aku yang bingung. Kenapa seakan ucapan itu biasa aja untuknya? Tapi kenapa untukku ucapan itu tidak biasa? Ada apa sih?! Tanyaku dalam hati. Aku diam. Lama.
"Yeh. Kok malah diam sih! Ucapan yang mana, bo?" Ujarnya menyadarkanku dari lamunan.
"Oh. Hm. Itu tadi kamu bilang. 'Gerimis mulai turun, namun kita masih sama'. Maksudnya 'kita masih sama apa, nyu? Kamu bosan denganku?"
Dia terdiam. Wajahnya tersirat garis garis kebingungan. Tak lama dia mulai tersenyum. Kini aku yang semakin heran. Kenapa senyum? Apa dia mau bilang 'bagus kalau kamu sadar aku bosan sama kamu' oh Tuhan kalau benar ia bicara begitu, pukul aku sekarang! Desahku dalam hati.
"Oh haha yang itu? Kebo... aku kira kamu gak sadar tentang itu. Hehe" jawabnya santai sembari mencubit-cubit pipiku. Aku mangap semangap-mangapnya. Hawa dingin kini semakin memeluk tubuhku. Aku bengong. Dugaanku tepat! Batinku.
Aku melepas genggamannya dari pipiku. Aku berdiri selangkah menjauh. Dia heran memperhatikan gerak-gerikku yang sedikit berbeda.
"Jadi kamu bosan denganku?!!" Ujarku, dengan berusaha menahan untuk tidak mengeluarkan hujan yang lebih deras daripada hujan yang diturunkan langit hari ini.
"Kok bosan? Bukan. Bukan itu maksudku, bo." Dia menggenggam tanganku.
"Ah udah lah Nyu. Aku tau aku ngebosenin buat kamu kan? Aku cuma bisa ngasih kamu kata-kata puitis. Aku cuma bisa ngasih kamu senyuman ikhlas dari bibirku. Aku cuma bisa ngasih sedikit kebahagiaan aja buat kamu. Aku cuma kurang bisa ngasih kenyamaanan buat kamu kan? Kamu tahu? Aku bukan hansip yang selalu bisa membuat kamu merasa nyaman, Nyu. Aku juga bukan pelawak yang setiap harinya selalu bisa membuat kamu tertawa. Aku cuma wanita 24 tahun yang mencintai kamu selama 5 tahun ini dengan apa adanya, dengan segenap rasa sayang yang aku punya,Nyu. Udahlah Nyu. Aku rapopo! " Ucapku panjang lebar setelah sebelumnya aku membalikkan badanku. Dia diam. Hujan semakin deras. Begitupula hujan di mataku. Sama derasnya dengan hujan yang sedang menari-nari di atap gapura.
Dia mengusap airmataku. Aku masih terisak.
"Sudah bicaranya?" Tanyanya. Aku hanya mengangguk dengan masih terisak. "Bukan itu yang aku maksud, kebo. Kamu itu sudah bagian dari jiwa aku. Kamu itu gak perlu jadi hansip ataupun pelawak. Kamu cukup jadi kebo yang aku sayang. Yang selalu susah dibanguninnya. Yang sukanya bersandar di bahu aku. Yang selalu jadi orang yang aku sayang. Ucapan tadi itu. Ini maksudnya.." dia menghentikan ucapannya dengan dibarengi tangan kanannya mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Yang setelah dibuka adalah sebuah cincin berlian yang tampak sangat berbinar cantik. Tak kalah cantiknya dengan pemandangan di tempat ini. Aku memandang takjub ke cincin itu. Mataku berbinar. Namun aku masih terisak sesekali.
"Entah tadi itu sudah gerimis yang berapa kalinya aku lewatin sama kamu. Dan di detik tadipun kita masih sama. Gerimis yang sama di tempat yang berbeda dan kita masih sama. Aku mau di gerimis selanjutnya. Kamu. Aku. Kita jadi beda." Dia berbicara panjang lebar. Namun aku masih tak mengerti dengan maksudnya. Alisku mengerut merapat, mataku sedikit menyipit. Dia pintar sekali membaca situasi. Dia tertawa kecil. Sedikit mengejekku.
"Aku tahu kamu gak ngerti." Katanya lagi. Dia berhenti bicara. Dia menunduk. Aku menunggunya berbicara. Penasaran. Tapi aku tetap menunggunya bicara, karena ku fikir aku sudah terlalu banyak bicara hari ini.
"Menikahlah denganku Ayundia Prawirya !" Katanya kemudian. Dia setengah berjongkok dan menunduk kepadaku dengan menengadahkan cincinnya. Aku diam seribu bahasa. Air mataku lagi-lagi membasahi pipi. Namun kali ini adalah airmata kebahagiaan.
"Aku mau gerimis yang akan datang. Kita gak lagi sama. Gak lagi hanya menjadi sepasang kekasih. Tapi menjadi sepasang merpati yang gak akan dipisahkan oleh ruang dan waktu. Aku suami. Kamu istri. Kita bukan lagi kebo yang unyu. Aku mau kita jadi merpati yang bahagia. Aku mau kamu menikah denganku. Hujan akan jadi saksi bagaimana cinta kita dimulai. Kali ini akan lebih membahagiakan."
Aku terharu mendengar ucapannya. "Ya, nikahilah aku." hanya 3 kata yang dapat aku ucapkan padanya. Aku specchless. Aku membantunya bangkit. Aku memeluknya. Aku bahagia. Sangat bahagia. Aku tahu Tuhan tidak pernah tidur. Ia menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku tentangnya selama ini. Kita berpelukan hangat lama sekali. Dengan berhentinya air mata di pipi,berhenti pula hujan yang sejak tadi membasahi rumput-rumput yang berdiri di jalan. Seperti hujan,datang karena gerimis mulai membanjiri. Kemudian berhenti ketika cerah kembali menghampiri. Matahari tersenyum.
Dia pun seperti gerimis yang datang mulai membanjiri pikiranku, kemudian berhenti ketika cinta kita saling berpadu dalam lingkaran cinta yang di ikrarkan di pelaminan. Hingga akhirnya matahari adalah kebahagian yang akan membahagiakan di masa depan aku dan dia kelak. Bersama anak dan cucu kita nanti, akupun bahagia dalam peluk dan tawanya.
-END-
Komentar
Posting Komentar