Manusia Setengah Salmon

"Aku tuh BUKAN bisa Move On, tapi aku HARUS Move On" - Jessica.

Yap. Kutipan diatas adalah sepenggal dari kutipan yang ada di Film Manusia Setengah Salmon. Setelah akhirnya tanggal 10 Oktober kemarin filmnya rilis. Gue baru nonton kemarin (30/10) bersama 3 teman gue. Untungnya belum telat gaul banget kan gue..
Jadi seperti postingan gue beberapa bulan lalu mengenai Film Cinta brontosaurus kali ini gue juga akan review mengenai film MSS (Manusia Setengah Salmon) ini. Yuk dah ah jangan basa-basi kelamaan nanti.
Cek.. cek... cekibrott.

Manusia Setengah Salmon film ini di adaptasi dari Bukunya Raditya Dika. Penulis sekaligus pemeran utama dalam film ini. Sekaligus penulis favorit gue :D . Gak banyak yang diubah dari buku ke film nya ini. Semua kutipan-kutipan yang ada di film MSS gak beda jauh sama yang ada di buku.
Cerita yang di film juga ada di buku. Ya namanya juga di adaptasi dari buku pasti ya yang ada dibuku ada juga di film lah yak.
Inti dari film ini adalah semuanya berhubungan dengan perpindahan. Dimulai dari pindah rumah sampai ke urusan pindah hati. Disini juga di ceritain mengenai bokap nya Dika yang doyan banget senam kentut (ini ada di bukunya di bab pertama loh) dan juga bokap nya Dika yang kembali seperti 'anak kecil' lagi. Kedekatan Dika ke nyokap nya yang sudah semakin menua. Perpindahan hati Dika dari Jessica (Eriska Rein) ke hati Patricia (Kimberly Rider). Tidak ketinggalan, perilaku konyol nya Edgar yang lagi-lagi selalu membuat kita (penonton) tertawa, tapi tetep selalu ada "pesan" dibalik sikap konyol nya Edgar. Contohnya waktu si Edgar buat pidato mengenai perpisahan saat dia kelas 6. Inti dari isi pidato itu yaitu gini (kalo gak salah. Karena gue. Lupa) "..... sebenarnya saya gak mau pisah dari sini. Tapi karena semuanya kita harus pindah. Bukan untuk melupakan yang lama tapi kita untuk mencari kenyamanan di tempat yang baru. Di tempat yang baru kita juga akan adaptasi. Semuanya kita akan berpindah pada akhirnya ke tempat yang baru....." yah intinya seperti itu deh. Gue nyaru-nyaru inget dialog yang scene ini :D . Atau saat Edgar mau ujian dia bukannya belajar malah bikin contekan dan parahnya dia punya slide mengenai "cara-cara menyontek by Edgar" haha. Parah emang.

Di film ini banyak kutipan-kutipan bagus. Seperti yang gue bilang diatas gak beda jauh sama yang ada di buku nya. Ini diantara kutipan-kutipan tersebut:

~ Dalam hidup kita akan melakukan perpindahan. Pindah dari satu kesatu hal lainnya yang membuat kita nyaman.
~ Hidup penuh dengan perpindahan. Dulu bokap yang jagain gue, sekarang gue yang jagain bokap.
~ Tau gak problem lu apa? Lu itu gak aktif dalam nyari. Itu makanya cewek gak ada yang dateng-dateng «- temennya Dika.
~  Pindah itu bukan berarti melupakan yang lama. Karena kita bisa jadi lebih baik dari masa lalu.
~ Kalo nyari cewek itu gampang. Jomblo bakal punah dari dunia ini «- Dika.
~ Aku tuh BUKAN bisa Move On, tapi aku HARUS Move On «- Jessica.
~ Nyari rumah itu sama kaya nyari jodoh , dik. Harus cocok-cocokan. Kalau kita udah merasa nyaman sama rumah itu. Yaudah gak perlu pikir panjang lagi. Itu berarti kita udah cocok. «- mama dika (ucapannya ini ada di 2 scene waktu mereka nyari rumah).
~ Rumah yang lama emang udah gak nyaman buat aku. Jadi aku siap buat nempatin rumah yang baru dan rumah baru aku itu kamu. Aku boleh kan tinggal didalam bersama kamu? «- dika.
~ Jangan melupakan kenangan yang telah terjadi ketika kita telah memulai kehidupan baru, teman baru dan lingkungan baru. «- Edgar.
~ Gue jadi berfikir untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah.

Dalam kutipan yang terakhir gue ambil dari buku. Gue lupa itu kutipannya ada di film atau enggak. Haha.
Mengambil dari kutipan terakhir dan 1 kutipan yang gue cantumin di pembuka postingan ini, gue mengambil sisi positifnya.
Mungkin ini saatnya gue buat jadi manusia setengah salmon: manusia yang berani pindah. Dari hal apapun itu. termasuk untuk masalah hati. iya gue bukan harus jadi manusia super yang terus-terusan berkata bijak ini itu. Berusaha tersenyum manis padahal hati selalu nangis. Bersikap seolah-olah semua baik-baik saja padahal enggak sama sekali. Terkadang gue  ngerasa kalau hidup gue ini gak bergerak. Hanya memutar pada porosnya berusaha mengikuti waktu yang terus berputar. Seolah gue mengikuti arah putaran waktu padahal untuk berjalan maju aja gue gatau arah mana yang harus gue ambil (iya. Ini. Lagi. Curhat). Kenapa gue bilang gue harus jadi manusia yang berani pindah? Karena seperti yang kalian tahu (mungkin) sampai detik ini hati gue ternyata belum bisa pindah. Mirisnya gue nyadar ini setelah gue nonton film MSS ini. Ternyata pindah itu bukan ke "rumah" kosong tapi harus ke "rumah" yang sudah ada pemiliknya. Cuma pemiliknya aja. Tanpa ada embel-embel apapun didalam "rumah" itu. Bagi yang gak ngerti. Gue jelasin, "rumah" ini bukan dalam arti rumah yang sesungguhnya. Mungkin jika lebih detail dijelaskan, rumah ini adalah hati atau seseorang. Selama ini gue berfikir kalau pindah ke "rumah" kosong itu artinya gue berhasil pindah dalam arti kata anak muda adalah Move On. Wuaduh. Iya bagi yang sudah pernah baca postingan blog gue ini "Susah Move On atau Gagal Move On" mungkin gue adalah salah satu orang yang termasuk dalam artian Gagal Move On.
Karena nyatanya gue gampang buat pindah ke orang lain. Tapi bodohnya adalah gue pindah ke orang yang salah. Sehingga ketika hati gue memutuskan untuk pindah ke dia (entah siapa). Semuanya menjadi gagal karna beberapa hal yang tidak memungkinkan gue untuk pindah ke orang itu.

Dulu. Sewaktu gue berusaha untuk pindah. Gue pernah "hampir" berhasil untuk pindah. Tapi ya itu dia. Karena pindah di "rumah" yang ternyata isinya bukan cuma pemiliknya aja. Itu jadi gagal. Gagal untuk pindah. Gagal untuk mencoba semuanya dari awal. Kemudian gue berlalu. Lagi-lagi gue menemukan "rumah" baru lagi untuk gue singgahi. Tapi nyatanya susah buat nempatin rumah itu. Terlalu kotor. Sesak. Terkadang emang bersih. Tapi sekalinya kotor bikin sesak. Lagi-lagi gue pindah di "rumah" yang salah. Tapi kalau di fikir-fikir sebenernya bukan "rumah-rumah" itu yang salah. Tapi gue. Iya gue yang salah. Gue selalu berfikiran untuk mendapatkan "rumah" yang menurut gue perfect. Padahal gak semua "rumah" itu perfect. Mungkin ada. Tapi pasti penghuninya itu bukan hanya pemiliknya. Tapi ada orang lain juga. Dan disinilah titik kesalahan gue. Gue terlalu memilah-milih "rumah" yang perfect. Padahal jika dilihat dari diri gue sendiri. Mungkin "rumah" perfect itu gak akan sebanding dengan diri gue. Mungkin gue gak akan bisa nyesuain diri gue di "rumah" itu. Toh buat apa kita nemuin "rumah" yang perfect tapi tidak membuat kita merasa nyaman?!
Lagi-lagi gue berfikir ternyata memang kaki gue aja yang belum berani untuk melangkah jauh. Malah terkadang langkah gue ini terlalu munafik. Sebenernya ada beberapa "rumah" yang terkadang menawarkan untuk bisa gue tempatin. Tapi langkah gue gak mau berenti di tempat itu. Terus berjalan mencari "rumah" yang terlihat sempurna. Tapi tatkala ketika sudah lumayan jauh melangkahkan diri dari "rumah" yang berbaik hati menawarkan diri agar gue singgah disana, gue selalu menengoknya. Mungkin itu sebuah penyesalan kenapa gue gak mencoba buat singgah sebentar di "rumah" itu? Yap penyesalan. Mungkin. Kadang ada perasaan ingin berbalik arah ke "rumah" itu tapi terhalang oleh rasa gengsi yang tinggi. Manusia. Wajar jika memiliki rasa gengsi :D . Hingga pada akhirnya gue terus berjalan. Entah kearah mana. Mungkin sekarang gue harus berani buat nentuin kearah mana yang harus gue tuju. Berani pindah berjalan terus maju ke depan. Seperti ikan salmon yang terus berjalan ke depan untuk menentukan tujuan utamanya. Ikan salmon yang gak peduli seberat apapun rintangan yang ada di depan mereka. Tapi mereka terus berenang ke depan pindah ke tempat yang menurut mereka itu nyaman buat ditempatin. Padahal di tengah jalan ada sebagian dari mereka yang mati di terkam oleh ikan lainnya atau bahkan mungkin mati karena kelelahan. Yaa gue juga akan terus berenang buat menemukan tempat yang akan membuat gue nyaman. Tempat yang baru.
Adaptasi. Ya gue harus adaptasi dengan semua perpindahan yang ada di hidup gue. Pindah buat mencoba menjadi bumi yang memutari "matahari". Bukan cuma menjadi bumi yang hanya berputar pada porosnya. Hingga pada saatnya nanti semua akan indah pada waktunya.  (Tsaaah banget kan bahasa gue haha). Harusnya sih mengejar waktu. Walaupun dalam kehidupan nyata waktu itu gak akan bisa dikejar karena kita gak akan bisa ngeduluin waktu yang sedang berputar. Kecuali kalau kita punya mesin waktu nya doraemon :D

Sebenarnya dalam hidup, kita itu selalu terjebak dalam suatu keadaan yang bernama perpindahan. Apapun itu kita pasti akan pindah. Seperti halnya waktu gue nganterin temen gue pulang, sebut aja namanya april. Dia juga pindah, pindah dari yang duduknya di jok motor gue jadi duduk di sofa rumahnya. Atau waktu kita makan-minum, makanan-minuman yang masuk melalui mulut kita kemudian pindah masuk ke kerongkongan kemudian masuk ke bagian tubuh lainnya yang mampu mencerna makanan itu dengan baik. Atau dalam hal sering gue alamin adalah pindah dari rumah ke kampus. Dari palmerah berangkat ke pamulang. Semuanya bukan pindah tanpa tujuan. Selalu ada tujuan utama diantara perpindahan itu sendiri. Gue dari rumah ke kampus pun ada tujuannya, belajar. Semua ada tujuannya. Pindah hati pun juga mempunyai tujuan yang adalah kita akan menemukan hati atau "rumah" yang nyaman buat kita tempatin. Kalau gak nyaman gak mungkin kan kita akan terus berlama-lama di tempat itu? Gak mungkin! Kita pasti akan merasa HARUS pindah.
Seperti hal nya kita pindah sekolah. Disaat teman-teman lainnya pada pindah sekolahnya dari SMP ke SMA gak mungkin kan kita akan stak terus di SMP. Kita harus ke SMA. Semanis apapun kenangan di SMP tapi kita harus berani pindah. Kan bukan untuk melupakan kenangan lama tapi untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu. Mungkin memang gak bisa kita secepat itu membiarkan semuanya untuk pindah, tapi balik lagi yang Jessica bilang dalam film MSS ini ".... aku HARUS move on." Iya harus. Kita harus memaksakan diri kita buat pindah. Mungkin tempat yang lama memang sudah merasa nyaman. Tapi mungkin tempat yang baru jauh lebih nyaman dari yang lama. Semua perlu adaptasi. Lagi-lagi hanya itu yang menjadi perkara.

So,  gue banyak belajar lagi dari film ini. Kalau gue harus pindah!! Gue harus nemuin "rumah" baru yang pemiliknya sedia buat gue tinggal didalamnya. Atau gue harus tetap berdiam diri tanpa aksi? Hanya menunggu pemilik rumah lain datang dan menawarkan tempat untuk gue tinggal. Entahlah. Jikalau memang gue harus mencari. Mencari kemana? Ke podomoro city? Kan setiap hari minggu lagi ada potongan harga tuh, senen harga naek kan. Eh enggak-enggak ini pembahasan serius.

Ah entahlah. Gue mungkin sudah lelah membicarakan hal ini. Intinya gue akan pindah karena gue rasa, gue sudah terlalu jauh untuk melangkahkan diri ini. Jikalau memang gak bisa. Gue HARUS MEMAKSAKAN diri gue buat bisa pindah. HEHE. Entah gimana caranya. Mungkin waktu yang akan menjawabnya. Ah lagi-lagi waktu dibalik semua ini........................

NB: tulisan ini hanya tulisan semata. Inget loh kata nya dwitasari "tidak semuanya yang aku tulis adalah aku dan tidak semuanya yang kamu baca adalah kamu." Mungkin tulisan diatas kena atau pas dihati kalian. Bahkan dihati gue. Tapi ini tidak mengarah ke siapapun kok. Ini cuma tulisan yang gue harap suatu saat nanti bisa membuat kalian jadi ter-inspirasi agar bisa pindah :D .. Oh iya kalau ada kutipan atau apapun yang salah dalam tulisan mohon koreksi nya ya. Box comment gue selalu terbuka untuk kalian kok :))

Komentar

  1. Kak, bisa nulis segini banyak. Nulisnya brapa menit? ajarin dong kak, biar bisa selancar ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku nulis postingan ini 2 jam, enggak cuma beberapa menit hehe. Sering nulis aja, nanti lama-lama juga terbiasa.
      By the way, terimakasih sudah berkunjung ke blog saya :))

      Hapus
  2. mantap mbak brooo..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semoga tidak kamu lagi

Hari penuh tawa

Gerimis kebahagian. (Cerpen)