Draft 1

"Hei, udah lama?" Sapa Dewa, lelaki bertubuh sedikit tegap dengan tinggi sekitar 165cm. Tubuhnya basah dipenuhi keringat yang terus mengucur dari rambutnya.
"Belum kok." Jawab seorang gadis berjilbab yang berusia 17 tahun dengan menyemburkan senyuman manisnya. "Nih. Minum." Lanjutnya sembari menyodorkan sebotol air mineral. Dewa langsung menyambar air mineral yang diberi gadis itu dan meneguknya hingga setengah botol habis.
"Elu tuh ya. Emang sohib gue banget deh. Setiap gue basket selalu aja nemenin. Cewek gue aja gak ada yang kaya elu Ris." Ujar Dewa dengan membenarkan posisi duduknya di sebelah gadis tersebut. Masih memegang sebotol air yang ia teguk tadi dengan memandang teman-temannya yang sedang bermain basket di lapangan. Iya, Dewa bukan hanya berkharismatik. Tetapi ia pun juga pemain basket.
"Halah ngomongin cewek! Pacar aja sekarang gak punya kan! Haha." Ledek Riris menyenggol badan Dewa, hingga Dewa hampir terjatuh. Gadis yang sejak tadi menunggu Dewa bermain basket. Dewa tertawa pecah mendengar ledekan Riris. "Lagian gue bete banget Wa. Lu kan tau kondisi rumah gue gimana tuh. Gak ngenakin banget." Lanjutnya. Kali ini dia menyenderkan badan mungilnya ke senderan bangku penonton lapangan. Matanya memerhatikan bola basket yang terus menerus memantul.
"Hei, yaudahlah gak usah dibawa pusing. Nanti elu sakit lagi ah." Ucap Dewa menenangkan sahabatnya yang sedari mereka masih SD sudah berteman baik. "Keep smile dong ah. Riris masa lemah sih. Kaya ABG SMP aja, lemah. Haha." Lanjutnya sembari menepuk-nepuk pundak Riris kemudian mendekapnya erat. Riris tertawa kecil. Degupan jantungnya kini semakin berpacu cepat. Terkadang disaat sedang bersama Dewa, Riris memang susah mengatur degup jantungnya yang terasa sedang kejar-kejaran. Tetapi lagi-lagi Riris harus menapik segala perasaan yang membuat dadanya semakin sesak.
"Ah lepas ah. Bau keringet lu ah!" Riris melepaskan dekapannya. Sebenarnya itu hanya sebuah alasan klasik Riris, agar perasaannya kepada Dewa tidak terus menerus membeku di hatinya.
Dewa mengendus badannya dengan memasang muka serius. Riris tertawa kecil. "Jorok lu ah Wa. Gak usah pake dicium segala sih. Hahaha."
"Ya lagian wangi begini sih. Keringet gue mah gak bau Ris. Asli deh. Nih cium coba." Dewa menjejalkan badannya ke Riris. Riris berusaha menghindar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semoga tidak kamu lagi

Hari penuh tawa

Gerimis kebahagian. (Cerpen)