Dear Cinta :')

Pipi ku memerah mengingat kejadian malam itu. Lalu aku memegang bibir ini yang masih terasa hangat aku rasakan. Menahan rasa malu dan amarah di dada ini yang tak menentu. Ah, apa aku kotor?! Kemudian tanyaku dalam hati.

Berlalu dari pertanyaan yang mulai membanjiri fikiran-ku. Aku membaringkan badan ku ke kasur. Mulai membiarkan beribu pertanyaan yang ada di otak ku begitu saja untuk mendapatkan jawabannya nanti. Walaupun aku tahu hati dan fikiran ku kali ini tak akan sejalan. I dont care! huh. Kemudian kataku lagi. Aku menghela napas panjang. Lagi-lagi aku tak bisa melupakan kejadian malam itu. Fikiran ku mulai menerawang sambil ku lihat ke langit kamar ku yang penuh dengan hiasan burung yang menggantung. Hiasan yang jadi mengingatkanku dengan seseorang. Refleks aku pun tersenyum mengingat hal-hal dimana semuanya menjadi indah. Pipiku kembali memerah menahan malu yang tak bisa ku tutupi. Mataku terpejam kembali mengingat malam itu lagi.

xxx

"HAHAHAHA. Oke cukup untuk malam ini dear. You always make me crazy. Hahaha." Ucapku sambil menahan tawaku yang mulai membludak. Tawa yang mungkin jarang sekali aku lakukan.
"Its oke dear. Haha. Yaudah yuk kita pulang aja. Katanya gak mau pulang malam-malam. Yuk" ajak seseorang lelaki yang saat itu sedang bersamaku. Yap, dialah orang yang selalu membuat ku tertawa hingga pita ketawa ku serasa mau putus. Lelaki yang tidak lain adalah orang yang sudah sejak lama menjadi sahabat ku dan merangkap menjadi orang yang aku sayangi. Mirisnya dia tidak pernah tau mengenai perasaan ku itu. Barry, ya lelaki yang sekarang ada di depanku ini yang sejak tadi menghiburku dengan humor nya yang selalu membuatku tertawa hingga serasa aku kehabisan nafas. Iya dia bernama Barry.  Nama yang selalu membuat hati ku tenang. Seperti malam ini contohnya. Di Cafe bilangan Jakarta Selatan ini tempat biasa kita berdua sering datangi hampir di setiap malamnya. Barry, orang yang selalu membuatku kehabisan akal sehatku setiap kali berbincang dengannya. Membuyarkan lamunanku tentangnya aku tidak menjawab pertanyaan Barry yang tadi aku hanya mengangguk saja lalu langsung berdiri dan mengambil tas kecil ku. Aku mengikuti langkah Barry keluar dari Cafe menuju ke mobil Barry yang terparkir rapi di depan Cafe.
"Well, kita kemana lagi abis ini? Kayanya aku gak jadi pulang buru-buru deh hehe" Tanyaku pada Barry sebelum masuk kedalam mobil.
"Umm. Serius? Oke yaudah naik aja dulu. Pokoknya kamu gak akan nyesel deh nanti" jawabnya cool. Seperti penampilannya yang memang selalu terlihat cool. Aku mengiyakan saja kata-kata Barry. Lalu langsung aku masuk ke dalam mobil. Tidak berlangsung lama mobil Barry pun langsung ngebut langsung menuju tempat yang akan dia tuju. Karena aku tak tahu dia akan membawaku kemana. Pukul 21:00 kita sampai di depan gedung yang tinggi.Kita naik ke atas gedung itu. Tempat dimana tidak pernah aku datangi saat malam. Satu kata yang terlintas di otak ku saat sudah sampai di atap yang paling atas. KEREN. Gemerlap lampu lampu jalan yang menghiasi jalanan ibukota ini sangat indah sekali. Wow. Beda sekali dengan keadaan siang di Ibukota yang macet. Aku terpangu melihat itu semua.
"Kok diem? Gak suka disini ya?" Tanya Barry yang mengagetkan semua lamunan ku.
"Apa? Gak suka? Gila kali kamu. Masa iya aku gak suka tempat se-keren inisih. Ya gak lah. Suka banget aku, Bar" jawabku cepat dengan ekspresi yang agak sedikit norak. Langkahku kemudian mengikuti Barry yang sedang duduk di pundukan batu yang ada disana.
Barry menatapku dengan tajam lalu memberikan senyum manisnya. Aku masih terpaku melihat kebawah melihat indah Ibukota di malam hari.
"Dear...." kemudian katanya yang memang sudah biasa aku dan dia memanggil dengan sebutan Dear.
"Iya bar?" Jawabku semanis mungkin.
Barry hanya tersenyum menatapku. Wajahnya semakin mendekat di hadapanku. Jantungku terpompa sangat kencang saat wajah kita berhadapan sangat dekat sekali. Tanpa sadar bibir Barry mulai mencium bibir ku dengan lembut sekali. Hanya sekejap. Barry langsung bergeser duduknya menjauhi ku. Wajahnya langsung tertunduk malu. Akupun sama. Aku hanya bisa terdiam lalu tertunduk malu sambil menggigit sedikit ujung bibir ku yang masih hangat karena sentuhan bibirnya.
Kita terdiam lama. Tak ada kata-kata yang Barry ataupun aku ucapkan. Hanya seliran angin yang mulai menusuk masuk ke pori-pori ku. Angin semakin kencang dan jantung ku pun juga masih berdetak kencang. Entah gimana Barry.
"Um.. maaf" hanya itu yang keluar dari mulut barry. Aku menengoknya malu-malu. Ku lihat dia masih tertunduk malu. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang mulai salting. Lucu banget sih kamu Bar. Seandainya kamu tahu aku suka saat kamu mencium bibir ku. Ucap ku dalam hati masih dengan senyuman kecil ku. Aku mengambil nafas pelan dan mulai mengatur degup jantungku yang tidak teratur tadi. Saat semuanya sudah mulai tenang aku mendekatkan diri ke tubuh Barry yang tadi langsung duduk menghindar. Aku memegang tangannya yang terasa dingin. Dia menatapku, aku tersenyum manis.
"Gak ada yang perlu di maafin, Bar." Kataku kemudian. Ups. Aku langsung menutup mulutku dengan tangan kananku dan langsung melepas genggaman ku yang kuletakan diatas tangan Barry. Duh. Ngomong apasih aku ini? Kesannya kaya cewek murahan banget sih. Duh. Semoga dia gak nyadar. Batinku. Barry langsung menatap kearahku dan kali ini gantian aku yang tertunduk malu.
Barry tersenyum kepada ku. Tak ada kata yang dia ucapkan, dia hanya menatapku dengan senyuman manisnya. Aku menengok ke arahnya sebentar.
"Pulang yuk bar udah malam juga" hanya kata-kata itu yang terlontar dari mulutku untuk mencairkan suasana.
"Pulang? Sekarang?" Tanyanya kembali. Dari nada suaranya seperti kekecewaan. Apa dia kecewa karena dia masih ingin berlama-lama denganku? Entahlah aku tidak ingin terlalu pede untuk menafsirkan sifat barry itu.
"Iya. Sekarang lah. Masa tahun depan. Udah jam 10 juga kan" jawabku sekenanya sambil melihat ke arah jam tanganku.
"Ya... yaudah deh." Ujar Barry. Kemudian dia langsung berdiri dan jalan duluan. Aku mengikutinya dari belakang menuju ke mobil.
Selama di dalam mobil hanya ada keheningan saja. Tak banyak kata yang Barry ucapkan. Akupun sama.
Seperti seorang remaja yang baru pertama kali kenal saja aku dan Barry diam-diam-an.. Tapi setiap kali aku melirik kearah Barry aku melihat ada kegelisahan di mata Barry. Entah apa yang dia sembunyikan. Mata ku kembali menuju ke arah jalanan di depanku. Menyusuri gelapnya malam dan gemerlap lampu lampu gedung yang menjulang tinggi. Tapi.....
"Bar, awas Bar..." jeritku ketika melihat di depan jalanan sana ada orang yang ingin menyebrang dan Barry masih tetap terus jalan. Akhirnya rem dadakan. Aku terdorong ke depan tapi langsung ke tarik lagi ke belakang karena seat belt yang aku pakai. "Kenapa sih Bar? Untung orang itu gak kenapa-kenapa. Kamu tuh ya kalo ada masalah cerita jangan diem aja begitu!" Lanjutku sedikit membentak. Tapi yang ditanya malah diam aja dan meneruskan kembali gas mobil untuk melanjutkan perjalanan. Aku mendengus kesal melihat sikapnya. Rese banget sih kamu Bar!! Nyesel aku nanya kaya begitu. Batinku. Kemudian aku kembali memposisikan tubuhku menghadap ke depan.
Tak lama mobil berjalan. Barry menghentikan kembali mobilnya dan meminggirkan ke tepi jalan. Aku malas untuk bertanya. Aku hanya diam. Barry pun sama hanya diam. Wajahnya tertunduk lemas diatas stir mobil. Kemudian langsung mengangkat kembali wajahnya dan kini malah menatap tajam ke arah ku. Aku bingung, takut, risih dilihat seperti itu oleh dia.
"Kenapa berenti sih Bar? Jalan lagi yuk. Maaf tadi aku sedikit bentak ke kamu abisnya tadi aku panik." Kataku akhirnya memberanikan diri sambil melihat kearahnya tapi tak lama. Aku langsung menundukan kepala ku lagi. Barry malah tertawa. Aku makin bingung dan hanya terdiam.
"Cinta...."katanya memanggil namaku sambil membalikan badanku hingga kita berhadapan. Aku masih tertunduk. Dia mengangkat wajahku yang tertunduk. "Ada yang mau aku omongin sama kamu" lanjutnya kini gantian wajahnya yang tertunduk. Dia terdiam. Kini aku yang penasaran.
"Kenapa bar?" Kemudian kataku mencari tahu. Yang ditanya malah menarik nafas. Kemudian dia menaikan wajahnya. Menatapku tajam. Kali ini lagi-lagi wajahku yang menunduk karena aku memang lemah setiap kali Barry menatapku seperti itu. Lagi-lagi Barry mengangkat wajahku. Kita terdiam. Mata kita beradu pandang lumayan lama. Aku bingung. Ku putar mataku kesana kemari menghindari tatapan tajam matanya. Akhirnya dia mulai membuka suara.
"Cinta.. Aku gak tau harus memulai ini dari mana. Aku sebenernya gak mau berbicara mengenai ini. Tapi hati aku resah Cin. Aku terus menerus di derai dengan seribu pertanyaan yang sampai sekarang belum aku dapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Aku takut kalau nanti aku gak ada waktu lagi untuk berbicara mengenai ini. Aku bingung Cinta aku bingung" katanya panjang lebar. Tapi justru saat itu malah aku yang dibuat bingung dengan ucapannya. Aku tak mengerti dengan semua maksudnya. Aku hanya terdiam sambil kupahami kata demi kata yang barusan dia katakan. Tangannya memegang erat bahuku. Wajahnya yang tadi menunduk setelah berbicara seperti kini sudah diangkatnya kembali. Mungkin karena melihatku hanya terdiam tanpa kata. Dia menatapku bingung. Aku membalasnya dengan tatapan yang lebih membingungkan.
"Aku gak ngerti maksud kamu apa Bar ?" Hanya itu yang keluar dari mulutku. Seketika Barry terlihat lemas mendengar ucapanku barusan. Dia melepaskan tangannya dari bahuku. Lalu memutar posisi duduknya kembali ke depan dengan menyenderkan badannya ke jok mobilnya. Dia terlihat kesal karena sesekali dia menepok jidatnya dan mengelap sedikit keringat yang tadi membasahi wajahnya. Aku makin binggung menatap sikapnya kini.
"Yasudah deh Cin abaikan saja kata-kataku tadi.. Jangan di fikirkan. Sekarang kita pulang aja deh. Sudah malam juga." Kemudian katanya lagi dan tangannya siap-siap untuk menstarter mobilnya kembali. Untung tanganku bisa dengan sesegera mungkin menghadang tangan dia. Dia menatapku. Aku mulai memberanikan diri membalas tatapannya. Dia menunduk.
"Jangan jalan dulu. Kasih tau dulu apa maksud yang kamu bicarakan tadi Bar. Jujur aku benar-benar gak ngerti. Tapi aku mau ngertiin semua ucapan kamu. Jadi kasih tau dulu ! Baru nanti kita pulang" ucapku sedikit memaksa. Mendengar hal itu Barry tersenyum kini posisi tubuhnya sudah diputar lagi menghadap kearah ku. Degup jantung ku lagi-lagi tak bisa ku kendalikan. Dagdigudugdagdigdig iya seperti itu mungkin bunyinya.
"Aku sayang kamu, Cinta. Itu maksud dari semua ucapan ku tadi. Kamu mau menjalin hubungan denganku yang lebih dari sekedar sahabatan? Aku lelah terus menyembunyikan perasaan ini terhadapmu. Aku bahkan sudah kehabisan akal untuk menutupi perasaan ini. Aku gak tahu gimana kamu ke aku" ujar Barry. Kali ini dia memegang tanganku dan menciumnya dengan lembut. DEG !! Jantungku serasa mau copot saja. Aku bingung. Entah aku harus bahagia atau sedih mendengar pengakuan Barry barusan. Bahagia karena ternyata rasa sayang aku untuk dia tidak bertepuk sebelah tangan. Sedih sebab aku takut kehilangan sosok sahabat seperti dia. Aku harus jawab apa ini?? Terima, enggak, terima, enggak, terima! Aaaduhh. Kenapa jadi bingung gini sih???!!! Batinku.
"Cinta....." panggil Barry menyadarkan ku dari lamunanku. Aku tersentak kaget.
Kemudian bibir ini mulai melontarkan kata demi kata untuk membalas pertanyaannya. "Aku tahu rasa sayang itu tanpa alasan. Termasuk saat kamu menyayangi aku. Tapi apa kamu mencintai aku dengan 1 alasan yang cukup real, yaitu mencintai seseorang karena-Nya. Apa kamu menyayangiku karena-Nya juga?" Dia mengangguk. "Jika memang begitu, kamu tepat berada dihati yang benar. Karena........" seruku panjang lebar. Tapi terpotong sebentar kupikir ini biar terkesan lebih dramatis menunggu ia penasaran dengan ucapanku selanjutnya.
"Karena........ karena apa?!" Ujar nya kemudian. Tepat, ucapanku membuat dia penasaran.
"Karena... karena aku sayang sama kamu juga. Aku benar-benar menyangimu karena-Nya. Karena-Nya yang menciptakan semua perasaan ini. Aku menyayangimu sejak lama. Entah. Aku juga mungkin telat menyadari itu semua" ujarku lagi dengan tatapan penuh kemenangan dan kebahagiaan dan senyum dengan sejuta makna.
Barry mencium tanganku lagi yang masih di genggamnya sejak tadi. Dia terdiam. Bibirnya melengkungkan senyuman. Senyuman yang paling hangat yang aku lihat. Wajahnya makin mendekati ku. Sama dekatnya seperti kejadian tadi di atas gedung tadi. Aku mulai susah mengatur degupan jantungku di setiap detiknya. Kulihat wajah Barry semakin mendekat dan hendak mencium ku (lagi). Aku berkelak. Kutempelkan telapak tanganku ke mukanya sambil ku dorong wajahnya perlahan menjauhi wajahku. Dia sempat tersentak kaget melihat sikapku itu. Langsung buru-buru aku jelaskan kepadanya.
"Gak lagi ya Bar. Tadi kamu sudah dapat jatah yang harusnya itu buat suami aku nanti. Iya sih itu emang sebuah ciuman biasa aja. Tapi aku selalu menjaga bibir ini supaya gak ke noda oleh lelaki manapun. Tapi kamu tadi......" ujarku kemudian langsung aku menundukan kepalaku karena malu. Iya sebenarnya aku malu untuk berbicara mengenai itu. Tapi aku juga tak mau kalau aku melanggar prinsip yang ku buat sendiri.
Ku lihat sebentar wajah Barry seperti ada perasaan bersalah menyelimuti wajahnya. Lalu ia berucap "Jadi itu first kiss kamu? Serius kamu Cin? Aku minta maaf banget ya untuk masalah itu. Aku gak tau kalau untuk masalah ini kamu menjadikannya sebagai salah satu prinsip kamu. Kalau aku tau itu. Aku gak akan bersikap kurang ajar sama kamu. Maaf banget Cinta. Aku benar-benar minta maaf sama kamu." Barry memegang tanganku (lagi). Mengusap kepala ku dengan lembut.
Ya, Barry masih terlihat lembut selembut saat aku mengenalnya. Andai aja kamu suami ku Bar. Desisku. Ada beberapa prinsip yang aku buat untuk diriku. Salah satunya untuk masalah ini. Ya, selama berpacaran dengan orang lain aku menjaga bibir ku ini supaya tidak kotor karena sentuhan dari bibir lelaki lain selain suamiku kelak nanti. Sama seperti halnya aku menjaga diri ini agar tetap suci. Jika diarti katakan secara detailnya aku menjauhkan diri ini dari perzinahan. Walaupun aku tahu berpacaran itu bisa menimbulkan perzinahan. Maka dari itu aku adalah wanita yang jarang sekali pacaran. Bahkan mantan ku saja masih bisa terhitung oleh anak kecil yang baru belajar menghitung.
Pikiran ku kembali kepada Barry. Setelah cukup berlama-lama mobil Barry berenti aku kemudian menyuruhnya untuk berjalan. Tanpa perlu dipaksa dia sesegera mungkin mengikuti ucapanku.
"Tapi cinta, berarti kita sekarang udah gak hanya sahabatan aja kan?" Tanya nya lagi sebelum menyalakan mobilnya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum manis. "Jadi kita sekarang...... Jadian? Pacaran?" Sambungnya lagi memastikan. Aku tertawa kecil mendengar ucapannya.
"Iya Barry. Aku sekarang milik kamu. Kamu milik aku. Aku pacar kamu. Kamu pacar aku. Kamu Barry nya aku. Aku Cinta nya kamu" kemudian jawabku sambil aku tertawa. Barry juga ikut tertawa. Kita kemudian tertawa. Mungkin bulan yang kulihat dari balik jendela mobil juga ikut tertawa. "Bisa aja sih kamu" ucap Barry disela tawanya. Dia kemudian menyalakan mesin mobil. Tak lama mobil pun berjalan menyusuri jalanan malam ibukota dengan gemerlap lampu-lampu jalanan yang menghiasi tepi jalannya. Tidak butuh waktu yang lama mobil Barry sudah memasuki kawasan komplek rumah ku di bilangan Jakarta Selatan. And then, sampailah sudah di depan gerbang rumahku.
"Sudah sampai princess" kata Barry kemudian ketika mobil sudah berhenti di depan gerbang rumah.
"Hehehe. Makasih ya Bar buat malam ini. Malam ini lebih indah dari indahnya gemerlap lampu-lampu jalanan tadi. Nanti kalau sampai rumah sms aku yak" Ujarku dengan perasaan yang sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
"Sama-sama sayang. Ini malam indah kamu juga karena ini jadi malam first kiss kamu kan? Haha" Ledek Barry. Aku kesal mendengar ucapannya. Tanganku langsung dengan ganas nya nyubit pipi Barry. Barry teriak kecil dan mukanya terlihat menahan sakit tapi dia tetap tertawa.
"Gak lucu candaanya ! Udah nanti kalau kamu sampe rumah gak usah kabarin aku. Bahkan kalau perlu selamanya gak usah ngabarin!!" Ujarku sedikit sok ngambek dengannya dan sedikit berakting pura-pura untuk membuka pintu mobil.
Sesegera mungkin Barry memegang tanganku (baca: mencegah) "maaf sayang aku bercanda. Jangan marah gitu yak, kalau kamu marah kamu jadi tambah cantik. Kalo kamu tambah cantik aku kan nanti jadi punya banyak saingan." Goda Barry lagi. Aku hanya tertawa kecil mendengar ucapannya. "Hehe. Aku sayang kamu. Good night and sweet dream ya. Jangan lupa mimpiin aku. Mimpinya nanti kita menikah terus punya 2 anak cowok-cewek ya" sambungnya sambil tersenyum. Aku tertawa jijik mendengarnya.
"Hih. Hahaha. Ada gitu mimpi pake request gitu. Dasar kamu!! Yaudah aku masuk dulu ya kedalam. Kamu hati-hati, nanti sampe kabarin aku, terus langsung tidur ya. Nite sayang." Ujarku kemudian lalu membuka pintu mobil, setelah sebelumnya aku melihat senyum Barry yang lagi-lagi sangat manis dan hangat.
Aku membuka gerbang rumahku sambil sesekali memperhatikan Barry yang melihatku dari dalam mobil. Iya, dia menungguku sampai aku benar-benar masuk ke dalam rumah. Aku melambaikan tanganku ke dia dan dia membalasnya. Tak sanggup untuk melihatnya lama-lama aku sesegera mungkin masuk kedalam rumah kemudian ku lihat dia sudah pergi dengan mobilnya. Aku langsung menuju ke kamarku. Ku rebahkan badanku yang sepertinya lelah. Tapi entahlah aku tak merasa lelah. Mungkin ini karena Barry. Aku tersenyum mengingat semuanya di malam ini. Makasih Barry, andai malam tak datang secepat ini. Andai aku bisa menghentikan waktu saat aku bersama kamu. Aku masih ingin berlama-lama denganmu. Bercanda dan berbagi senyum bahkan berbagi tawa denganmu. Ucapku dalam hati.
Kemudian aku langsung memejamkan mataku membiarkan rasa lelah yang tak ku rasa ini berlalu. Hingga nantinya aku sanggup untuk menghadapi sang mentari dengan keceriaan yang baru.

xxx

"Cintaa... Cintaaa.. "
Suara mama membuyarkan semua lamunan indahku.
"Iya mah, masuk aja pintunya gak aku kunci" jawabku sekenanya.
"Loh? Kamu belum mandi? Atau kamu baru bangun?"  Ujar mamaku kaget melihatku masih memakai baju tidur ku semalam dengan rambut yang masih berantakan.
"Iya aku baru bangun mah. Kenapa sih? Histeris banget gitu." Ujarku sambil sesekali aku menguap.
"Loh. Kamu ini gimana sih. Kan hari ini kamu ada pemotretan jam 10 kok malah baru bangun sih . Barry udah jemput kamu tuh."
Aku terdiam sebentar mengingat jadwalku hari ini.
"ASTAGAAA." Ujarku sambil menepuk jidatku. "Aku lupa mah, yaudah aku mandi dulu buru-buru nanti aku langsung turun kebawah. Tolong bilang ke Barry tunggu sebentar mah" ujarku lagi kemudian langsung buru-buru aku masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar juga. Mamah menutup pintu kamarku dengan sesekali menggeleng dan ia langsung turun kebawah.
Setengah jam kemudian aku sudah rapi dan langsung turun kebawah menemui Barry. Telat 15 menit dari jadwal kufikir tak apa lah. Aku memang suka telat untuk pemotretan. Kini hari-hari ku terasa sempurna; karir yang gemilang, materi yang cukup memuaskan, keluarga yang harmonis dan seorang lelaki yang sejak dulu aku cintai kini menjadi kekasihku, Barry. Barry adalah pelengkap dalam hidupku yang membuat hari-hariku menjadi indah. Kuharap bukan untuk sesaat tapi untuk selamanya.

(^3^) END

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semoga tidak kamu lagi

Hari penuh tawa

Gerimis kebahagian. (Cerpen)